MENJADIKAN KEKURANGAN SEBAGAI KELEBIHAN

Namaku Aqila Saira, usiaku tujuh belas tahun, aku hanya memiliki satu kekurangan, yaitu aku tida memiliki kelebihan. Konyol memang, tapi apa adanya. Setelah lulus sekolah menengah atas, aku sangat bingung untuk memilih jurusan apa yang akan ku ambil saat kuliah nanti. Bagaimana tidak.?

Cita-citapun aku tidak punya. kenapa? Karena ku merasa tidak memiliki kelebihan. Ya, jika menjadi guru, aku tidak berbakat untuk mengajar. Menjadi dokter, melihat darah sedikit saja aku langsung pinsan. Menjadi pramugari, ya, mungkin itu satu-satunya yang bisa aku lakukan. Cantik, pintar dan terlahir dari orang tua kaya raya. Tapi ku rasa tidak, karena aku takut ketinggian. Aish, nmalang sekali nasibku ini. Dan kategori terakhir yang bisa ku ambil adalah “Pesantren. Iya menjadi santri”. Dan semuanya berawal dari meja bundar.

“sayang, kamu akan ambil jurusan apa jika lulus nanti?” Di meja bundar ini papa mananyai ku sambil mengolesi rotinya dengan selai kacang kesukaannya.

Aku merasa tertohok sial, kenapa papa menyakan hal itu? Sedikitpun tidak terbersit dalam fikiranku untuk melanjutkan kuliah. Aku menjawabnya dengan hanya mengangkatkan bahu. “Kenapa?” papa bertanya lagi. Sebenarnya aku ingin menjawab bahwa aku ingin menjadi pembalap. Tapi papa pasti tidak akan setuju.

Dan fikiranku buyar saat mama datang dengan segelas susu coklat di tangan kirinya. Dan sebuah smartphone di tangan kanannya. Syukurlah mamah datang dan menghentikan pertanyaan papa. “ Kamu, berhentilah membuat masalah!” mama bicara sesaat setelah duduk dan menyodorkan segelas susu itu padaku, aku dan papa bersamaan menoleh. Aku mengernyitkan dahi, apa maksud mama berkata seperti itu?.

“Seorang polisi lalu lintas menelpon mama, dia bilang mama harus ganti rugi, karena tadi malam kamu menabrak mobilnya, benar begitu?? CKCKC, itu namany pelanggaran, untung saja polisi itu berbaik hati untuk tidak menjebloskan mu ke penjara, tentunya atas tuduhan tabrak lari. Kamu itu benar-benar membuat papa malu” mama mengomel, sementara papa masih asyik dengan sarapan paginya. Ooh, tenyata masalah itu. Aah, dasar polisi mata duitan !! dia bilang tidak akan melaporkan aku jika aku membayarnya.

“ma, lagi pula itu kesalahannya sendiri!! Aku sudah memperingatkannya untuk minggi, tapi dia tidak mendengarkan, dia malah terus diam di tengah jalan dan bersi kerasa menilang mobilku, tentu saja dia aku tabrak.”

“Aisy, kamu ini benar-benar ya! Baru kemarin kamu mematahkan kaki teman laki-lakimu. Kemarinnya lagi kamu membuat guru matematikamu masuk rumah sakit..,”. “aah, iya.. sakit jantungnya kambuh saat aku menyelipkn kecoa di buku PR yang aku kumpulkan” “dan sekarag, apa yang kamu lakukan!? Mama tidak habis fikir”. Lalu mama melahap sarapan paginya saat aku hampir menghabiskan sarapan pagiku. Karena memang mama dari tadi terus mengomeliku. Setelah mendengarkan semuanya dalam diam, papa angka bicara. “ kalau begitu, keputusan akhir dari semua permsalahan ini, dan karena kamu sering melanggar peraturan adalah, kamu akan masuk pesantren, Titik !!! tidak ada kata tapi !!!” dengan tegas, perkataan itu keluar dari mulutnya. Kelihatannya mama juga menganggukan kepala.

“Apa!!??” aku memukul meja lalu berdiri. “keputusan apa??!!peraturan itu untuk dilanggar!! Untuk apa ada peraturan jika tidak dilanggar !! tapi ya sudah lah, terserah !! aku sudah muak !!.” aku beranjak dari kursiku lalu saat aku sampai di ruang tengah, tiba-tiba ada gempa, buni bergoncang 6,7 sekala liter, suara reruntuha semakin membuatku tergeragap. Dan saat aku melihat keatas, aku terhenyak, lampu besar yang berada tepat di atas kepalaku akan jatuh. “Aaaaa..” aku berteriak, jantungku berdegup saat kencang, sekencang-kencangnta, lalu aku terbangun, nafasku tersenggal-senggal, tubuhku dibahasai peluh piuh. Ternyata itu hanya mimpi. Aku mengusap wajahku. Lagi-lagi aku memimpikan kejadian waktu itu, aku benci dengan percakapan itu!! Karena berkat percakapan itu lah orang tua ku sukses membuatku ada di neraka ini!! Aah, andai saja waktu aku masih tidur dan tidak ikut sarapan. “Aqila, cepat turun, aku tahu kamu diatas.!!” Saat aku melihat kebawah, aku terhenyak. Kedua bola mataku langsung tertuju pada sosok yang berbadan gemuk dengan wajah garangnya yang khas, ia sedang menggoncang-goncangkan lemari besar dengan tinggi tidak kurang 3 m.entah untuk apa sebuah lemari dibuat setinggi itu. Tapi aku bersyukur, karena aku dapat bersembunyi di atasnya. Pantas saja lemarinya bergoyang. Ku kira tempat persembunyianku yang satu ini akan aman dari pengontrolan keamanan, nyatanya tidak, anggota keamanan itu benar-benar membuatku terciduk. Dia terus saja menggedo lemari itu sampai bergoyang, ku kira ada gempa, dia ini sungguh menyebalkan!”

“cepat turun! Lagi-lagi kamu tidak sholat berjama’ah!”

“aaahhh,suaranya benar-benar membuat telingaku sakit! Dengan amat sangat terpaksa, aku menurunkan tali yang sedari malam telah ku ikat pada tiang penjaga ruangan, tali yang cukup kuat untuk mengangkat se’ekor marmot, kau tau, aku membuatnya sendiri dari beberapa sarung bantal. Ide yang sangat gila, aku tau itu, tapi itu sangat brilliant!.

Dengan penuh keterpaksa’an, aku menuruninya perlahan. Sekilas aku melihat dia terpana yang di susul dengan gelengan kepala “Astghphfirulloh al adzim”. Dia mengeluarkan nafas berat, nyaris tak terdengar. Mungkin dia takjub, atau mungkin salah satu sarung bantal yang aku rangkai adalah miliknya, entahlah. Mungkin saja karena aku mendapatkannya dari jemuran umum, he.

Setelah berhasil mengagetkan ku dan membuatku turun dari tempat persembunyianku, dia menyusuri setiap lorong dan setiap sudut ruangan, untuk apa lagi jika bukan untuk memergoki dan membuat mangsa selanjutnya tercyduk, seperti aku. Tapi, kenapa dia bisa tau tempat persembunyiaku? Entahlah, mungkin, dia berbakat jadi peramal. Atau mungkin,,,,…entahlah.

Karena aku sudah terlanjur turun, aku harus antri kamar mandi, aishhh….seharusnya aku masih tidur sa’at ini, dan tidak perlu capek-capek mengantri. Tapi, ya sudahlah,! Semuanya telah terjadi aku hanya harus segera ke sana, sebelum antriannya penuh.

Dan, sungguh beruntung aku kali ini, tidak ada yang sedang mengantri didepan kamar mandi, itu artinya aku bisa langsung masuk!! Akupun segera masuk dan astaga!! Lengkap sudah penderita’anku pagi ini! Kenapa baknya kosong?!.

Ku buka satu persatu kamar mandi pesantren itu, namun na’as tidak ada satupun bak yang terisi air, semuanya kering! Tapi tunggu, aku merasa ada sesuatu yang ganjil, aku mengerenyitkan kening, jika aor di pesantren ini kering, lalu semua santri mandi di mana,? Semua asrama terlihat kosong. Mungkin hanya aku satu-satunya orang yang ada di asrama, aha,,,!!! Setelah cukup lama aku berpikir, aku tau mereka pasti kesana!

Dan benar saja, sa’at aku berhasil menuruni lembah terjal yang licin, juga hanya ada satu pegangan di samping kanannya. Dari atas sini aku bisa melihat mereka sedang tertawa riangdi tepi sungai, sambil sesekali saling mencipratkan air,aku tersenyum, namun senyumku terhenti, saat melihat di sebelah sana, di dataran sungai yang lebih rendah, aku melihat seseorang sedang poop, iukh!! Menjijikan sekali!! Ternyata mereka melakukan segalanya di sana. Dari mulai mandi mandi , mencuci, dan …….ah, aku tidak sanggup, aku pengen pingsan saja, dan sebelum keinginanku terwujud, ada seseorang yang menarik lenganku.aku tidak mengenalnya karena dia membelakangiku. Aku menurut saja, ternyata dia membawaku ke tepi sungai, mau apa ??

Dan seketika setelah kami sampai, dia mendorongku ke sungai menjijikan itu, dan buarr….air tersimbah kemana-mana. Setelah aku mendapatkan kese’imbanganku kembali, aku melihat, ternyata dia anisa, teman satu kamarku. Ah dia ini benar-benar! Semua santri yang ada di sana tertawa, lebih tepatnya, menertawakan aku,! “puas kamu membuatku malu hh?! Cepat! Bantu aku naik! “aku menyodorkan tanganku “baiklah”..dia mengulurkan tangannya sambil terus saja menahan tawa. Aku menggerutu dalam hati.ku genggam erat tangannya, ku tarik dia ke sungai, dan buarrr,…suara gelak tawa semakin ramai di atas sana. Rasakan kau!! Dia marah, lalu terus-terusan menyimbahkan air padaku, aku tidak rima! Aku balas menyimbahkan air padanya sampai mengenai para penonton karna baju mereka sudah terlanjur basahterkena simbahan kami berdua, para penonton itu ikut turun ke sungai. Dan kami ikut tertawa bersama sambil salimbahkan air, aku merasa menemukan sesuatu yang telah hilang, mungkin karena, dari awal aku masuk pesantren ini, aku belum pernah merasa bahagia. Bagaimana tidak? Masuknya pun aku di paksa! Bagaimana aku bisa merasa bahagia?! Pepatah mengatakan : hidup itu harus terbebas dari keterpaksa’an “dan aku percaya akan hal itu.

Setelah aku selesai mengeringkan bajuku, aku dan santri lainnya pulang melewati jalan yang sama, kami sedang berpegangan tangan, supaya tidak ada yang tertinggal / jatuh. Suasana kekelurga’an begitu pekat menyelimuti kami, ku kira, santri itu hanya segelintir orang yang terbuang, mereka anak nakal  / atau ank yang otaknya tidak memenuhi karakteristik sekolah pormal yang akhirnya di buang ke pesantren. Dan pesantren lah yang sukarela untuk menampung mereka,,ckckck, sungguh dangkal pemikiranku waktu itu, buktinya, di sini, di tempat ini, aku menemukan orang-orang yang sejatinya sangat pantas untuk masuk sekolah pormal. Tapi mereka memilih pesantren karna di sana mereka di didik, di bimbing, dibina untuk mengikuti aturan tuhan. Aku benar-benar bodoh jika berfikir bahwa pesantren itu neraka dunia….ckckck…

Aku membaringkan badanku di atas sebuah tikar ,aahhh, berbeda sekali kamar megahku yang beralaskan kasur empuk dan nyaman, dan di balut selimut tebal. Aku segera memejamkan mata untuk tidur sudah sejak dulu menjadi hobyku. Kau tahu?! Kita itu harus memperbanyak tidur, karna segala sesuatu itu berawal dari mimpi! Itulah pemikiran ku sa’at mengantuk.

Belum juga aku terlelap, mimpi burukku telah tiba, tiba-tiba datang seorang santriwati dan yang membangunkan ku memberitahukan bahwa aku di panggil oleh dewan kesantrian putri. Untuk apa dia memanggilku?. Hatiku bergemuruh, perasa’anku tidak enak, dan benar saja,

Setelah aku memenuhi dewan kesantrian putri itu, aku menepuk dahi, aduh! Aku lupa bahwa sejak tadi subuh aku belum sholat. Pantas saja dewan kesantrian memanggiku ke kantor kesantrian, oh, ternyata itu masalahnya..dan karna aku menanamnya, aku harus menuai hasil akhirnya. Aku di jatuhi hukuman membersihkan seluruh kamar mandi yang ada di pesantren. Astaga! Semuanya kan ada 50. Mana mungkin aku sanggup membersihkan sendiri!.

Dan ke esokan harinya, dengaan amat sangat terpaksa, aku mulai membersihkan satu persatu kamar mandi.

Baru saja aku membersihkan kamar mandi no 27, tangan dan kaki ku sangat pegal, seluruh badanku terasa remuk, ah, dewan kessantrian itu benar-benar membuatku kesal, setidak nya hukuman untukku tidak seberat ini, dia ini memang hanya pandai memerintah!

Sa’at aku sedang menggerutu dalam hati, anisa datang dengan satu botol air minum dan sebungkus roti. Aku langsung duduk di sampingnya setelah ia duduk di kursi kaya di bawah pohon mangga.

“ah, kamu itu memang sahabatku yang paling baik.” Aku langsung menyamber botol minuman yang dia bawa, lalu meneguknya, nyaris tak tersisa. Lalu ku makan sebungkus roti yang dia sodorkan dengan lahapnya. Dia memang paling mengerti bahwa dari pagi aku memberi makan cacing-cacing yang berdemo di perutku.

“kamu kelihatannya lelah” dia bertanya sesa’at setelah dia memperhatikan wajahku dan bajuku yang kotor dan basah karena peluh.

“amat sangat!!, perempuan itu benar-benar menyusahkan hidupku di pesantren ini! Dia hanya pandai bicara tanpa mengamalkan apa yang dia katakan.”

“apa maksudmu ?” anisa mengerenyutkan kening.

“ya, dia pernah bilang bahwa allah tidak suka pada orang yang suka menyusahkan orang lain, dan apa yang dia lakukan padaku ?! dia benar-benar menyusahkan hidupku. Apa allah suka pada orang seperti itu ?!” aku terus melahap rotiku dengan penuh kekesalan!

“jangan seperti itu. Tidak baik kamu membicarakan gurumu sendiri. Dia adalah orang yang telah memberikan ilmu padamu…” penyakit penceramahnya mulai kambuh.

“aku boleh membicarakan  dia. Karena aku tidak menimba ilmu darinya. Aku ini anak yang pintar, jelas-jelas kau tau itu. Sekali mengaji saja, aku akan lebih bisa dari santri-santri yang lain !” jadi, aku tidak perlu terlalu sering mengaji seperti kalian. Anisa hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Andai saja waktu itu aku menggapai mimpiku jadi pembalap, aku tidak perlu menjadi santri, dan hidup susah seperti ini. Di sini aku harus menta’ati semua peraturan. Berbeda sekali dengan menjadi pembalap. Aku hanya mengemudikan mobil, lalu sehabis itu, aku mendapatkan uang dan kepuasan, ah, malang sekali nasibku ini…

Setelah perut menghadapi semua permasalahan di pesantren ini, inilah sa’at yang paling di tungga-tunggu oleh semua santri. Sa’at dimana mereka semua akan pulang dan melepas rindu kepada orang tua dan sanak keluarga mereka. “pepatah mengatakan” perpisahan itu bukan untuk berpisah selamanya, melainkan hanya untuk menambah kerinduan saja.” Aku peercaya sekarang, karena setelah  terpisahkan oleh jarak dan rentang waktuyang lumayan lama, untuk pertama kalinya, aku merindukan kedua orang tuaku.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, aku sampai di depan rumahku. Ahh, aku tidak sabar untuk segera merefresh badan dan pikiranku disini. Dan sa,at aku membuka pintu, tidak ada siapa-siapa di dalamnya. Lampunya mati. Rumah ini sudah tidak berpenghuni. Pikiranku berkecamuk. Kemana papa dan mama ? apa mereka sudah……ahh tidak ! dan sa’at aku menumakan stop kontak dan mulai menekannya. “tara……selamat datang ustadzah aqila….”kedua orang tuaku, dann semua sanak keluarga berkumpul bersorak sambil meniup terompet dan membentantangkan tangan mereka menyambut kedatanganku, “piuhhh,, syukurlah orang tuaku masih hidup, tidak seperti cerpen kacangan yang menceritakan ustadzah muda yang pulang ,sedangkan kedua orang tuanya sudah meninggal.

Setelah semua keluargaku pulang meninggalkan aku dan kedua orang tuaku di rumah, ayah berkata pada mama sambil mengusap-ngusap kepalaku.

“ ma, anak kita sudah jadi ustadzah, lihatlah penampilannya, berbeda sekali dengan dulu…ah, ayah bangga padamu. Lalu ayah mencium keningku. “tentu saja berbeda dulu, aku hanya memakai kaus pendek dan celana jeans saja, dan sa,at ini aku mengenakan rok panjang dengan baju yang sangat longgar, dengan panjang selutut, kerudung panjang, sampai menutupi pantat, handsok dan kaus kaki. Sebenarnya aku sangatlah gerah, tapi demi melihat kedua orang tuaku bahagia, aku rela melakukannya. Mama juga ikut tersenyum dan memelukku. Mama meneteskan air mata sa’at memelukku. Air mata bahagia! Lalu mama berkata : “mama juga sangat bangga padamu, karna mulai sa’at ini kamu bergelar ustadzah di kampung ini, ustadzah yang selalu mengisi majlis ta’lim di kampung kita ini,sebulan yang lalu meninggal.

Dan hanya kamu lah satu satu nya yang menjadi harapan kami semua. Besok, kamu bisa mulai mengisi majlis ta’lim”. Mama tersenyum, aku terhenyak, jantungku berdegup sanga….t kencang pikiranku kalut, hatiku bergemuruh, kenapa, kenapa semuanya jadi seperti ini?! Aku tergeragap. Air mataku mengalir deras, aku bersujud pada mama, mama dan papa bingung, “ma,,, ma’afkan aku…” mama dan papa turun untuk merangkul tubuhku, aku memeluk mama sangat erat, dan tangisku membeludak. Aku hanya terus menangis dalam pelukannya. Tak mampu aku berkata-kata. Apa yang harus aku sampaikan pada ibu-ibu di majlis ta’lim?, sementara mengajipun aku belum pernah! Di pesantren aku hanya membuang waktuku dengan percuma. Benar, penyesalan itu selalu ada di akhir. Mama melepaskan pelukanku, lalu dia memegang kedua pipiku. Dan berkata.”sayang, dengan sikapmu yang seperti ini, mama mengerti. Jika kemarin kamu tidak bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu, sekarang berubahlah, karna tidak ada kata terlambat untuk berubah,”

Tangisku semakin membeledak, aku memeluknya lebih erat. “terima kasih”. Aku sungguh menyesali semua yang telah aku lakukan semuanya !

Dan setelah kejadian itu, aku mulai menuntut ilmu kembali, bedanya, kali ini aku sangat bersungguh-sungguh.ya, walaupun usiaku sudah terlalu tua, harus bagaimana lagi?! Inilah buah yang harus aku petik dari semua kesalahan yang pernah aku tanam! Aku memang bodoh, kenapa aku menanam kesalahan?!, dan kampung tempat tinggalku pun semakin gelap karena tidak ada satupun penerang di sana. Aku sungguh menyesal.!

–tamat–

Cerpen Santriyat Al-Musri

Link: Menjadikan Kekurangan Sebagai Kelebihan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *