Bagian Tentang Pondok Pesantren

Tipe-Tipe Pontren

Pesantren sebagai agen perubahan masyarakat (Agent of Social Change) dalam berbagai bentuk dan variasinya terbukti telah melekat kuat dalam sejarah bangsa. Secara histories peran multi fungsi pesantren di Indonesia sudah diketahui sejak era wali songo dalam penyebaran agama Islam, dalam perang-perang melawan penjajah di era kolonialisme hingga menjadi penyumbang pemikiran konstruktif dalam membangun bangsa di era globalisasi.

Pontren secara garis besar dapat dikelompokan menjadi empat bentuk. Yaitu :

    1. Pontren tipe A, yaitu Pontren yang seluruhnya dilaksanakan secara tradisional, dikenal dengan “salafiyah murni”
    2. Ponten tipe B, pontren yang menyelenggarakan pengajaran secara kelasikal, system madrasi.
    3. Pontren tipe C, yang hanya merupakan asrama, sedangkan santrinmya belajar diluar komplek pesantren.
    4. Pontren tipe D, yang menyelenggarakan system pondokan dan system sekolah sekaligus.

Sebenarnya kenyataan di lapangan saat ini menunjukan bahwa bentuk dan model pesantren jauh lebih bervariasi, sebagai contoh terdata sebagai berikut :

  1. Pontren yang menyelenggarakan pengajian kitab-kitab klasik, seperti kitab fathul mu’in, fathul wahab untuk fan fiqh, jurumiyah dan alfiyah ilmu nahwu dan shorof dst.
  2. Pontren seperti pada point a, namun memberikan tambahan latihan keterampilan dan kejujuran.
  3. Pontren yang menyelenggarakan pengajian kitab namun lebih mengarah pada upaya pengembangan tarekat/sufisme.
  4. Pontren yang menyelenggarakan kegiatan keterampilan khusus seperti tahfidz al-Qur’an, fan nahwu shorof saja atau fiqh saja.
  5. Pontren yang mengkombinasikan semuanya.

 

Sebuah lembaga pendidikan dapat disebut Pontren apabila didalamnya terdapat lima unsure. Kyai, santri, asrama/kobong, mesjid, pengajian, proses belajar mengajar.

Tri Darma Pontren

  1. Peningkatan keimanan dan ketaqwaan kepa Alloh SWT.
  2. PEngembangan keilmuan yang bermanfaat.
  3. Pengabdian terhadap agama dan bangsa.

 

Ciri Khas dunia Pontren antara lain :

  1. Hubungan yang dekat antara Kyai dan santri.
  2. Ketaatan santri yang tinggi kepada kyai.
  3. Hidup hemat dan sederhana.
  4. Tingginya semangat kemandirian para santri.
  5. Berkembangnya suasana persaudaraan dan tolong menolong.
  6. Tertanamnya sikap itiqomah.

 

Metode Pembelajaran di Pontren

  1. metode sorogan atau sorongan (bahasa Jawa artinya menyodorkan) system ini termasuk belajar individual dimana seorang santri berhadapan langsung dengan kyai . sedikit banyaknya materi belajar tergantung kemampuan santri.
  2. Metode bandungan atau wetonan. Metode ini yaitu dengan cara ceramah kyai dihadapan sekelompok santri. Kyai membaca, menterjemaahkan, menerangkan dan sekaligus megulas teks-teks kitab berbahasa Arab tanfa harokat (gundul) dimana para santri mengikuti dengan ngalogat dengan memakai kode-kode tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *